Pelanggan atau langganan merujuk pada individu atau rumah
tangga, perusahaan
yang membeli barang
atau jasa yang
dihasilkan dalam ekonomi.
Secara spesifik, kata ini sering pula diartikan sebagai seseorang yang terbiasa
untuk membeli barang pada suatu toko tertentu. Dalam berbagai pendekatan,
tergantung dari sifat dari industri atau budaya, pelanggan bisa disebut sebagai klien, nasabah, pasien. Maknanya
adalah pihak ketiga di luar sistem perusahaan yang karena sebab tertentu, membeli barang atau jasa perusahaan.
Khusus untuk nasabah, istilah ini digunakan mewakili pihak yang menggunakan
jasa bank, baik itu untuk keperluannya sendiri maupun sebagai perantara bagi
keperluan pihak lain.
Dalam kegiatan usaha,
seorang pemasar atau penjual, mendekati prospek. Prospek dipahami sebagai relasi bisnis yang
membangun hubungan dengan perusahaan. Prospek adalah relasi yang bisa sudah menjadi
pelanggan ataupun belum. Dalam pengertian yang lebih luas, relasi bisnis
menyangkut hubungan bisnis
dengan semua pihak ketiga di luar perusahaan.
Termasuk dalam kriteria ini : penyedia/vendor, bank, atau pihak
lainnya.
Kebutuhan pelanggan
dapat didefinisikan sebagai barang atau jasa yang dibutuhkannya untuk mencapai
tujuan tertentu. Pelanggan memiliki kebutuhan yang berbeda tingkatannya dan
pengharapan pelanggan biasanya dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya, iklan, pemasaran,
serta bentuk komunikasi lain, baik dari pemasok maupun
sumber-sumber lainnya.
Kebutuhan
maupun pengharapan pelanggan
dapat ditentukan melalui wawancara, survei, perbincangan, penggalian
data, atau metode-metode pengumpulan informasi
lainnya. Pelanggan mungkin tak memiliki pemahaman jelas mengenai kebutuhannya.
Bantuan untuk menentukan kebutuhan dapat menjadi suatu layanan yang berharga
bagi pelanggan. Pada proses ini, pengharapan dapat diatur atau disesuaikan
dengan kemampuan produk atau jasa tertentu.
Harapan pelanggan
diyakini mempunyai peranan yang besar dalam menentukan kualitas produk (barang
dan jasa) dan kepuasan pelanggan. Pada dasarnya adalah hubungan yang erat
antara penentuan kualitas dan kepuasan pelanggan. Dalam mengevaluasinya,
pelanggan akan menggunakan harapannya sebagai standar atau acuan. Dengan
demikian, harapan pelangganlah yang melatarbelakangi mengapa dua organisasi
pada bisnis yang sama dapat dinilai berbeda oleh pelanggannya. Dalam konteks
kepuasan pelanggan, umumnya harapan merupakan perkiraan atau keyakinan
pelanggan tentang apa yang akan diterimanya (Zeithmal,et al., 1993). Pengertian
ini didasarkan pada pandangan bahwa harapan merupakan standar prediksi. Selain
standar prediksi, ada pula yang menggunakan harapan sebagai standar ideal.
Umumnya faktor-faktor yang menentukan harapan pelanggan meliputi
kebutuhan pribadi, pengalaman masa lampau, rekomendasi dari mulut ke mulut, dan
iklan. Zeithaml, et al. (1993) melakukan penelitian khusus dalam sektor jasa
dan mengemukakan bahwa harapan pelanggan terhadap kualitas suatu jasa terbentuk
oleh beberapa faktor berikut:
1. Enduring Service Intensifiers
Faktor ini merupakan faktor yang bersifat stabil dan
mendorong pelanggan untuk meningkatkan sensitivitas terhadap jasa. Faktor ini
meliputi harapan yang disebabkan oleh orang lain dan filosofi pribadi seseorang
tentang jasa. Seorang pelanggan akan berharap bahwa ia patut dilayani dengan
baik pula apabila pelanggan lainnya dilayani dengan baik oleh pemberi jasa.
Selain itu, filosofi individu (misalnya seorang nasabah bank) tentang bagaimana
memberikan pelayanan yang benar akan menentukan harapannya pada sebuah bank.
2. Personal Needs
Kebutuhan yang dirasakan seseorang mendasar bagi
kesejahteraannya juga sangat menentukan harapannya. Kebutuhan tersebut meliputi
kebutuhan fisik, sosial, dan psikologis.
3. Transitory Service Intensifiers
Faktor ini merupakan faktor individual yang bersifat
sementara (jangka pendek) yang meningkatkan sensitivitas pelanggan terhadap
jasa.
Faktor ini meliputi:
- Situasi darurat pada saat pelanggan sangat membutuhkan jasa dan ingin perusahaan bisa membantunya (misalnya jasa asuransi mobil pada saat terjadi kecelakaan lalu lintas).
- Jasa terakhir yang dikonsumsi pelanggan dapat pula menjadi acuannya untuk menentukan baik buruknya jasa berikutnya.
4. Perceived Service Alternativies
Perceived Service Alternatives merupakan
persepsi pelanggan terhadap tingkat atau derajat pelayanan perusahaan lain yang
sejenis. Jika konsumen memiliki beberapa alternatif, maka harapannya terhadap
suatu jasa cenderung akan semakin besar.
5. Self-Perceived Service Roles
Faktor ini adalah persepsi pelanggan
tentang tingkat atau derajat keterlibatannya dalam mempengaruhi jasa yang
diterimanya. Jika konsumen terlibat dalam proses pemberian jasa dan jasa yang
terjadi ternyata tidak begitu baik, maka pelanggan tidak bisa menimpakan
kesalahan sepenuhnya pada si pemberi jasa. Oleh karena itu, persepsi tentang
derajat keterlibatannya ini akan mempengaruhi tingkat jasa/pelayanan yang
bersedia diterimanya.
6. Situational Factors
Faktor situasional terdiri atas segala kemungkinan
yang bisa mempengaruhi kinerja jasa, yang berada diluar kendali penyedia jasa.
Misalnya pada awal bulan biasanya sebuah bank ramai dipenuhi para nasabahnya
dan ini akan menyebabkan seorang nasabah menjadi relatif lama menunggu. Untuk
sementara waktu, nasabah tersebut akin menurunkan tingkat pelayanan minimal
yang bersedia diterimanya karena keadaan itu bukanlah kesalahan penyedia jasa.
7. Explicit Service Promises
Faktor ini merupakan pernyataan (secara personal atau
non personal) oleh organisasi tentang jasanya kepada pelnggan. Janji ini bisa
berupa iklan, perjanjian, atau komunikasi dengan karyawan organisasi tersebut.
8. Implicit Service Promises
Faktor ini menyangkut petunjuk yang berkaitan dengan
jasa, yang memberikan kesimpulan bagi pelanggan tentang jasa yang bagaimana
yang seharusnya dan yang akan diberikan. Petunjuk yang memberikan gambaran jasa
ini meliputi biaya untuk memperolehnya (harga) dan alat-alat pendukung jasanya.
Pelanggan biasanya menghubungkan harga dan peralatan (tangible assets)
pendukung jasa dengan kualitas jasa. Harga yang mahal dihubungkan secara
positif dengan kualitas yang tinggi. Misalnya, kendaraan angkutan umum yang
sudah tua dan kotor dianggap hanya cocok bagi masyarakat bawah yang lebih
mementingkan tiba di tujuan dari pada kenyamanan saat perjalanan.
9. Word of Mouth (Rekomendasi/Saran dari Orang
lain)
Word of Mouth merupakan
pernyataan (secara personal atau non personal) yang disampaiakn oleh orang lain
selain organisasi (service provider) kepada pelanggan. Word of Mouth ini
biasanya cepat diterima oleh pelanggan Karena yang menyampaikannya adalah
mereka yang dapat dipercayainya, seperti para ahli, teman, keluarga, dan
publikasi media massa. Di samping itu, Word of Mouth juga cepat diterima
sebagai referensi karena pelanggan jasa biasanya sulit mengevaluasi jasa yang
belum dibelinya atau belum dirasakannya sendiri.
10. Past Experience
Pengalaman masa lampau meliputi hal-hal yang telah
dipelajari atau diketahui pelanggan dari yang pernah diterimanya di masa lalu.
Harapan-harapan pelanggan ini dari
waktu ke waktu berkembang seiring dengan semakin banyaknya informasi (nonexperience
information) yang diterima pelanggan serta semakin bertambahnya pengalaman
pelanggan. Pada gilirannya, semua ini akan berpengaruh terhadap tingkat
kepuasan yang dirasakan pelanggan.
Kepuasan pelanggan adalah suatu keadaan dimana keinginan, harapan dan keperluan
pelanggan dipenuhi. Suatu pelayanan dinilai memuaskan bila ia dapat memenuhi
kebutuhan dan harapan pelanggannya. Ada beberapa faktor yang dapat
dipertimbangkan oleh pelanggan dalam menilai suatu pelayanan, yaitu: ketepatan
waktu, dapat dipercaya, kemampuan teknis, diharapkan, berkualitas dan harga
yang sepadan.
The Best 10 Slots Casino Cities for Fun - Mapyro
BalasHapusCheck out 천안 출장샵 the top 10 best slot cities 진주 출장샵 in 충청남도 출장안마 the United States. Rank, Best, 화성 출장안마 RTP, and 남양주 출장샵 Bonus Code. Choose the right city for you!