Selasa, 23 April 2019

PMBA Dalam Kondisi Bancana


Negara Indonesia merupakan Negara yang terletak pada jalur cincin api (Ring of fire) yang menyebabkan tingginya potensi bencana alam seperti gempa bumi, tsunami maupun letusan gunung berapi yang mengharuskan penduduk untuk mengungsi jika keadaan darurat. Ditempat pengungsian banyak timbul masalah salah satunya pemberian makan pada bayi dana anak, banyak ibu yang mengalami depresi yang mengakibatkan produksi ASI menurun sehingga memutuskan untuk pemberian susu formula yang apabila cara penyajiannya kurang tepat akan menimbulkan masalah baru seperti diare pada anak. Selain itu dapur umum yang didirikan kadang belum memfasilitasi penyediaan makanan pendamping ASI (MP ASI) bayi maupun balita sehingga ibu memutuskan untuk memberikan makanan instan pada anaknya.
Pada kejadian gempa di Bantul Yogyakarta, 25 % bayi dan balita yang mengalami diare disebabkan karena mengkonsumsi susu formula di pengungsian. Hal ini disebabkan sarana untuk menyiapkan susu formula ditempat pengungsian sangat terbatas seperti air bersih, alat memasak, botol steril dan tempat mencuci peralatan bayi. Selain donasi susu formula yang tidak terkontrol masalah lain adalah belum tersedianya makanan pendamping ASI di dapur umum pengungsian, sehingga ibu mempunyai kesulitan dalam memberi makan bayi dan balita dan memilih memberikan makanan instan.  Menurut WHO dan UNICEF telah memberikan peringatan bahwa pemberian susu formula ditempat pengungsian akan meningkatkan risiko kesakitan dan kematian pada bayi dan balita.
Belajar dari pengalaman tersebut pemerintah Indonesia mengadopsi rekomendasi badan kesehatan dunia WHO dan Unicef tentang anjuran untuk tidak menyumbangkan produk susu formula pada bayi dan anak dalam kondisi darurat ataau bencana. Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi dan balita saat bencana pemerintah mencanangkan program PMBA dalam kondisi darurat.  PMBA yang tepat dan sesuai target usia dan waktu adalah kunci penting dalam kondisi darurat dan ini bisa menyelamatkan jiwa. Hal ini akan melindungi kebutuhan gizi anak, tumbuh kembang dan juga bermanfaat bagi para ibu. Persiapan menghadapi situasi bencana juga sangat penting agar bisa mempersiapkan respon yang tepat dan sesuai dengan rekomendasi yang ada.
Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang rawan bencana, karena Kabupaten Sleman yang memiliki gunung api paling aktif di Indonesia yaitu gunung merapisehingga mempunai risiko gempa vilkanik, letusan gunung berapi maupun banjir lahar dingin yang mengakibatkan warga harus mengungsi. untuk mengurangi risiko kesakitan dan kematian pada bayi dan anak di lingkungan pengungsi peran kader PMBA sangat dibutuhkan. Peran kader PMBA dalam pengungsian diharapkan mampu menyiapkan menu MP ASI 4* (empat bintang) sesuai rekomedasi WHO dan Unicef di dapur umum pengungsian sehingga bayi dan balita tetap mendapatkan nutrisi yang baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar