Negara
Indonesia merupakan Negara yang terletak pada jalur cincin api (Ring of fire)
yang menyebabkan tingginya potensi bencana alam seperti gempa bumi, tsunami
maupun letusan gunung berapi yang mengharuskan penduduk untuk mengungsi jika
keadaan darurat. Ditempat pengungsian banyak timbul masalah salah satunya
pemberian makan pada bayi dana anak, banyak ibu yang mengalami depresi yang
mengakibatkan produksi ASI menurun sehingga memutuskan untuk pemberian susu
formula yang apabila cara penyajiannya kurang tepat akan menimbulkan masalah
baru seperti diare pada anak. Selain itu dapur umum yang didirikan kadang belum
memfasilitasi penyediaan makanan pendamping ASI (MP ASI) bayi maupun balita
sehingga ibu memutuskan untuk memberikan makanan instan pada anaknya.
Pada
kejadian gempa di Bantul Yogyakarta, 25 % bayi dan balita yang mengalami diare
disebabkan karena mengkonsumsi susu formula di pengungsian. Hal ini disebabkan
sarana untuk menyiapkan susu formula ditempat pengungsian sangat terbatas
seperti air bersih, alat memasak, botol steril dan tempat mencuci peralatan
bayi. Selain donasi susu formula yang tidak terkontrol masalah lain adalah
belum tersedianya makanan pendamping ASI di dapur umum pengungsian, sehingga
ibu mempunyai kesulitan dalam memberi makan bayi dan balita dan memilih
memberikan makanan instan. Menurut WHO
dan UNICEF telah memberikan peringatan bahwa pemberian susu formula ditempat
pengungsian akan meningkatkan risiko kesakitan dan kematian pada bayi dan
balita.
Belajar
dari pengalaman tersebut pemerintah Indonesia mengadopsi rekomendasi badan
kesehatan dunia WHO dan Unicef tentang anjuran untuk tidak menyumbangkan produk
susu formula pada bayi dan anak dalam kondisi darurat ataau bencana. Untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi bayi dan balita saat bencana pemerintah mencanangkan
program PMBA dalam kondisi darurat. PMBA yang
tepat dan sesuai target usia dan waktu adalah kunci penting dalam kondisi darurat dan ini bisa
menyelamatkan jiwa. Hal ini akan melindungi kebutuhan gizi anak, tumbuh kembang
dan juga bermanfaat bagi para ibu. Persiapan menghadapi situasi bencana juga
sangat penting agar bisa mempersiapkan respon yang tepat dan sesuai dengan
rekomendasi yang ada.
Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan
salah satu wilayah di Indonesia yang rawan bencana, karena Kabupaten Sleman
yang memiliki gunung api paling aktif di Indonesia yaitu gunung merapisehingga
mempunai risiko gempa vilkanik, letusan gunung berapi maupun banjir lahar
dingin yang mengakibatkan warga harus mengungsi. untuk mengurangi risiko
kesakitan dan kematian pada bayi dan anak di lingkungan pengungsi peran kader
PMBA sangat dibutuhkan. Peran kader PMBA dalam pengungsian diharapkan mampu
menyiapkan menu MP ASI 4* (empat bintang) sesuai rekomedasi WHO dan Unicef di
dapur umum pengungsian sehingga bayi dan balita tetap mendapatkan nutrisi yang
baik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar